CUKUP ALLAH SAJA

Manusia kerap kali dilanda perasaan takut, khawatir, cemas, gundah, panik, sedih, dan sejenisnya karena sesuatu yang ia anggap buruk atau membahayakannya. Orang berharta, misalnya, kerap merasakan takut hartanya akan berkurang atau diambil orang, baik dengan cara terang-terangan atau dengan cara sembunyi-sembunyi. Semua orang pasti akan merasakan hal semacam itu. Ini sesuatu yang alamiah dan fitrah.

Dalam situasi semacam itu, kerap kali juga manusia tak berdaya dan tetap saja kecolongan meski telah berhati-hati dan ekstrawaspada. Namun, tetap saja ada orang jahat dan tak bertanggung jawab yang berhasil mengambilnya.

Manusia benar-benar seperti tak berkutik. Harta yang ia dapatkan susah payah, dengan kerja keras yang mungkin saja telah bertahun-tahun, harus hilang dalam sekejap tanpa bisa dipertahankan.

Bahaya atau ancaman dari orang jahat dan tak bertanggung jawab memang kerap kali mengintai. Bagi orang beriman, tidak cukup mengandalkan orang atau pengaman fisik untuk menjaga hartanya. Ia perlu juga bertawakal kepada Allah.

Tawakal berasal dari akar kata wakala; dari sini muncul istilah wakil. Artinya, penolong, pelindung, dan penjaga. Salah satu nama Allah (Asmaul Husna) adalah al-Wakil. Dengan nama ini, Allah dimaknai sebagai Dzat yang Maha Menolong, Maha Melindungi, dan Maha Menjaga. Orang beriman yang percaya Allah sudah seyogianya menggantungkan diri kepada-Nya karena Dia adalah al-Wakil.

Dalam Sirah Nabawiyah (Biografi Nabi) karya Ibnu Hisyam dikisahkan, pada saat kaum Muslim di Madinah dikepung dan diblokade sekitar 10 ribu pasukan gabungan atau sekutu (ahzab) Quraisy, mereka benar-benar dalam posisi berbahaya, genting, dan mengkhawatirkan, mengingat jumlah pasukan Muslim hanya sekitar 3.000 orang.

Kaum Muslim pun merasa takut, khawatir, dan cemas. Namun, tidak demikian halnya dengan Nabi SAW. Dengan sangat tenang Rasulullah SAW mengucapkan hasbunallah wa ni’mal wakil (Allah sudah cukup bagi kita, Dialah penolong yang paling baik).

Dalam Alquran disebutkan, “(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.’” (QS Ali Imran [3]: 173).

Dengan kuasa dan pertolongan Allah, kaum Muslim selamat dari kehancuran dan kekalahan. Pasukan Quraisy dan sekutu justru yang hancur porak-poranda diterpa angin topan yang menghancurkan kemah-kemah dan logistik mereka. Akhirnya, mereka pulang kembali ke Makkah menderita kekalahan dan malu.

Itulah kekuataan orang beriman yang mengatakan bahwa Allah sudah cukup bagi mereka. Hal yang sama juga terjadi pada Nabi Ibrahim. Ketika ia akan dilemparkan ke dalam api yang berkobar oleh kaumnya karena mendakwahkan tauhid, beliau mengucapkan kata yang sama. Akhirnya, beliau pun selamat tanpa terbakar sedikit pun meski ia berada dalam kobaran api itu.

Inilah yang ditegaskan Allah, “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS ath-Thalaq [65]: 3). Wallahu a’lam.

Sumber : republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi