DETEKSI DINI GANGGUAN PENDENGARAN BAYI

Pakar kesehatan telinga hidung tenggorokan mengatakan, masyarakat perlu melakukan deteksi dini pendengaran pada bayi. Sehingga jika benar ada masalah dengan pendengaran dapat segera ditangani dengan cepat.

“Semakin cepat terdeteksi, maka penanganannya dapat lebih intens dilakukan,” kata Ketua Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan (THT) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, dr Adlin Adnan di Medan, Kamis (22/3).

Ia mengatakan, pihaknya selalu menekankan upaya preventif dalam mengatasi kasus gangguan pendengaran bawaan lahir dan jika anak memang mengalami gangguan pendengaran, maka cochlear implant(implant rumah siput) bisa menjadi harapan terakhir.

Namun, cochlear implant sendiri saat ini memang belum terlalu dikenal masyarakat, termasuk di Sumatra Utara. Salah satu masalah terbesarnya adalah biaya alat implan tersebut yang sangat mahal. Saat ini, harga termurahnya mencapai sekitar Rp 160 juta.

Sementara itu, untuk pasien yang telah menjalani pemasangan cochlear implant di RSUP H Adam Malik, selama ini mendapatkan bantuan dari sejumlah yayasan.

“Harapannya ke depan, pemerintah bisa membantu pengadaan alat ini. Karena ini masa depan anak Indonesia, investasi negara kita,” katanya.

Menurut dia kasus gangguan pendengaran bawaan lahir sudah mendapat perhatian serius, mengingat kasus tersebut cukup banyak terjadi di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

Untuk itu WHO mencanangkan program “Sound Hearing 2030” dan pemerintah Indonesia merespon melalui Program Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) dengan target mengatasinya hingga 90 persen pada 2030.

“Ada sekitar satu dari 1.000 kelahiran di Indonesia dengan kasus gangguan pendengaran bawaan lahir. Penyakit rubella di masa kehamilan jadi salah satu penyebabnya,” katanya.

Sumber : republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi