Takut Ketinggalan Tren? Hati-Hati, Bisa Jadi Kita Sedang Terjebak FOMO

oleh | Agu 12, 2026 | Inspirasi

Scroll media sosial sebentar, lalu tiba-tiba merasa hidup sendiri terasa kurang. Teman sudah liburan ke luar negeri, rekan kerja baru beli gadget terbaru, dan orang-orang di circle pergaulan seolah selalu punya sesuatu yang lebih dari yang dimiliki saat ini.

Perasaan ini punya nama yaitu FOMO atau Fear of Missing Out, dan ia jauh lebih berbahaya dari yang terlihat di permukaan.

Bukan hanya membuat tidak nyaman, tapi juga perlahan menggerus rasa syukur yang merupakan salah satu fondasi terpenting dalam kehidupan seorang Muslim.

Nah, di artikel ini Rumah Zakat akan membahas apa itu FOMO, bagaimana Islam memandangnya, dan cara konkret yang diajarkan Islam untuk terbebas dari jebakan perasaan yang satu ini.

Apa Itu FOMO dan Mengapa Sangat Relevan di Era Digital?

Sebelum membahas sudut pandang Islam tentangnya, penting untuk memahami dulu apa yang sebenarnya dimaksud dengan FOMO dan mengapa fenomena ini semakin intens di era media sosial.

Definisi FOMO yang Perlu Dipahami

FOMO atau Fear of Missing Out adalah perasaan cemas atau takut ketinggalan pengalaman, pencapaian, atau momen yang sedang dialami orang lain.

Istilah ini dipopulerkan oleh Dr. Dan Herman pada awal tahun 2000-an dan semakin relevan seiring berkembangnya media sosial yang memperlihatkan kehidupan orang lain secara terus-menerus.

Di era sekarang, FOMO dipicu oleh paparan konten yang tidak ada habisnya. Setiap hari ada saja hal baru yang terasa harus diikuti, dicoba, atau dimiliki agar merasa tidak tertinggal dari orang-orang di sekitar.

Tanda-Tanda Seseorang Sedang Terjebak FOMO

Berikut tanda yang paling sering menunjukkan seseorang sedang dalam cengkeraman FOMO:

  1. Merasa gelisah saat tidak membuka media sosial dalam waktu lama karena takut ada yang terlewat.

  2. Selalu membandingkan pencapaian diri dengan orang lain secara tidak sehat dan berujung pada rasa tidak puas.

  3. Membeli atau mengikuti sesuatu karena semua orang melakukannya bukan karena memang dibutuhkan atau diinginkan.

  4. Sulit menikmati momen saat ini karena pikiran selalu melayang ke apa yang sedang dilakukan orang lain.

  5. Merasa hidupnya kurang menarik dibanding kehidupan yang ditampilkan orang lain di media sosial.

Baca Juga: Jangan Asal Ikut Tren! Pahami Hukum Crypto dalam Islam

Islam Memandang FOMO Sebagai Apa?

Islam tidak menyebut FOMO dengan nama itu, tapi Islam sudah mengidentifikasi akar psikologis di baliknya jauh sebelum istilah ini lahir.

Akar FOMO dalam Perspektif Islam

Dalam perspektif Islam, FOMO berakar dari dua penyakit hati yang saling berkaitan yaitu hasad dan kurangnya qanaah.

Hasad adalah perasaan tidak senang melihat nikmat yang ada pada orang lain, sementara kurangnya qanaah membuat seseorang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki.

Keduanya adalah penyakit hati yang jika tidak diobati akan terus menggerus ketenangan dan kebahagiaan dari dalam, meski dari luar kondisi kehidupan seseorang terlihat sangat baik.

Dalil yang Meluruskan Cara Pandang tentang Apa yang Dimiliki Orang Lain

Rasulullah SAW memberikan solusi untuk memutus rantai perbandingan yang menjadi bahan bakar utama FOMO:

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat kepada yang di atasmu, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini adalah antidot paling langsung untuk FOMO. Rasulullah SAW tidak melarang melihat pencapaian orang lain, tapi mengarahkan arah pandang ke tempat yang menghasilkan rasa syukur, bukan ke tempat yang menghasilkan ketidakpuasan.

Cara Islam Mengatasi FOMO

Mengetahui bahwa FOMO adalah penyakit hati saja tidak cukup. Islam memberikan langkah-langkah nyata yang bisa diambil untuk benar-benar terbebas dari jebakannya.

Berikut cara yang diajarkan Islam untuk mengobati FOMO secara bertahap dan berkelanjutan:

  1. Perbanyak rasa syukur dengan menuliskan setiap hari apa yang sudah dimiliki dan dinikmati karena syukur adalah lawan langsung dari FOMO.

  2. Batasi waktu di media sosial secara sadar karena paparan yang terus-menerus terhadap kehidupan orang lain adalah pemicu utama perasaan ini.

  3. Latih qanaah dengan zikir seperti membaca “Alhamdulillah” secara sadar setiap mendapat nikmat sekecil apapun.

  4. Fokus pada amal yang tidak terlihat orang lain karena ini melatih hati untuk tidak bergantung pada validasi eksternal.

  5. Ingat bahwa media sosial hanya menampilkan highlight bukan keseluruhan kehidupan yang penuh tantangan dan kesulitan yang tidak pernah diperlihatkan.

  6. Perbanyak sedekah karena tangan yang terbiasa memberi jauh lebih mudah merasakan cukup dibanding tangan yang selalu ingin mengambil lebih.

Baca Juga: Mengumbar Aurat di Sosmed, Masihkah Dianggap Biasa?

Kesimpulan

Jadi, FOMO adalah fenomena modern yang berakar pada penyakit hati yang sudah diidentifikasi Islam sejak berabad-abad lalu.

Solusinya bukan memutus koneksi dari dunia, tapi melatih hati untuk melihat ke arah yang benar dan bersyukur atas apa yang sudah ada.

Semakin sering melatih rasa syukur dan semakin sering memberi, semakin kecil ruang FOMO untuk tumbuh di dalam hati.

Yuk, salurkan sedekah melalui Rumah Zakat dan rasakan sendiri bagaimana kebiasaan memberi perlahan menggeser rasa takut ketinggalan menjadi rasa cukup yang jauh lebih menenangkan.

Kalkulator Zakat

Hitung zakat Anda secara akurat dengan kalkulator zakat kami

Donatur Care

Silakan cek riwayat donasi Anda disini

Link Terkait