IKHLASKAH (KITA) SELAMA INI?

Oleh : Achmad T. Syadid Billah

Alangkah ruginya, melakukan segala bentuk amalan namun bukan karena Allah, bukan juga untuk Allah. Padahal Allah berfirman: “…dan tidaklah kalian diperintah kecuali beribadah kepada Allah dengan ikhlas.” (QS. 98:5)

Semerbaknya amal dilatarbelakangi oleh keikhlasan. Bahkan, tersebar luasnya dakwah ke seluruh penjuru dunia adalah contoh nyata hasil kerja pribadi-pribadi yang ikhlas. Mereka tidak mengharapkan apapun, kecuali ridha Tuhannya. Mereka tidak menginginkan apapun, kecuali cinta Rabbnya. Cinta pasti membutuhkan pembuktian. Dan Allah, sungguh akan mengujinya, mulai dari bagaimana cara hamba-Nya beribadah pada-Nya.

Apakah semua itu dilakukan semata karena-Nya?

Berbicara tentang ibadah, tentu amat luas. Namun, hakikatnya segala bentuk amalan yang dilakukan semata-mata karena Allah, dan sesuai dengan apa yang Rasulullah contohkan adalah ibadah. Sebab darinya Allah mendatangkan pahala, entah dari kenikmatan maupun dari ujian. Sesungguhnya perkara yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal, namun keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila dilakukan dengan ikhlas semata karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Berkata Abdullah bin Mubarak,

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat (ikhlas), dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat (tidak ikhlas).”

Sebagian dari kita mungkin masih ada yang belum paham sepenuhnya tentang ikhlas. Sebab memang kebanyakan diantara manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya pada perkara-perkara ibadah, seperti sholat, puasa, zakat, membaca Al Quran, haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun, ketahuilah bahwa sebenarnya keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah.

Perkara kecil sebatas tersenyum pada saudara kita pun, harus ikhlas. Bukan agar dianggap baik, bukan agar dinggap murah senyum, atau apapun yang tidak akan dibawa mati. Semua itu tidak ada apa-apanya.Selama ini mungkin kita juga masih ada yang bingung, mengapa dari sekian banyak amal yang dilakukan, tidak banyak yang bertahan dan berguguran satu persatu. Hal tersebut diakibatkan minimnya atau bahkan tidak adanya keikhlasan dalam diri kita.

Belajar ikhlas, berarti belajar menyayangi hati dan diri kita. Sebab ikhlas adalah jalan terbaik untuk lolos dari jeratan noda-noda kesyirikan sehalus apapun, setelah kita melakukan suatu amalan. Bila kita merasa sakit hati ketika sebuah kebaikan yang dilakukan tidak mendapat balasan yang kita pikir layak kita terima, maka ikhlaskan saja. Bebaskan amal kebaikan kita dan biarkan amalan itu menemukan jalannya kepada Allah semata, seraya kita terus berdoa agar amal yang kita lakukan itu Allah terima. Insya Allah hati kita akan tetap lembut, pikiran tidak akan kalut, dan kita akan tetap terjaga untuk terus istiqomah di jalan Allah.

Tags :
Konfirmasi Donasi