[:ID]KEUTAMAAN MENJENGUK ORANG YANG SAKIT[:en]VIRTUE IN VISITING THE SICK [:]

[:ID]Oleh: Ali Farkhani Tsani

Sejatinya, orang sakit itu tak perlu makanan atau minuman enak, juga pakaian mewah. Yang ia harapkan adalah spirit untuk sehat. Bahwa masih ada orang-orang yang mengharapkannya. Masih ada sahabat-sahabat sejatinya yang merinduinya untuk kembali ceria seperti semula.

Sejatinya juga, orang sakit itu tidak ingin segala buah-buahan impor, juga mainan aneka rupa. Yang ia perlukan adalah doa agar ia dapat pulih dan beraktivitas seperti semula.

Bahwa masih banyak warga yang memerlukannya. Masih banyak kawan-kawan terbaiknya yang mendambakannya untuk aktif kembali menggerakkan kebaikan-kebaikan yang biasa dikerjakannya untuk orang banyak.

Dalam sakitnya, banyak orang merasakan pahitnya. Dalam perihnya masih terlalu banyak kerabat yang merasakan sedihnya, Begitu agungnya besuk menjumpai saudara kita yang sakit, sampai Rasulullah SAW mendeskripsikannya dengan, “Apabila seseorang menjenguk saudaranya Muslim yang sedang sakit, maka seakan-akan dia berjalan sambil memetik buah-buahan surga sehingga dia duduk. Apabila sudah duduk, diturunkan kepadanya rahmat dengan deras.

Apabila menjenguknya di pagi hari, tujuh puluh ribu malaikat mendoakan orang yang menjenguk itu agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Maka, ketika ada seseorang yang sakit tak sadarkan diri, atau koma, maka relung tingkat kesadaran terdalamnya sesungguhnya mendengar dan merekam suara-suara yang membesuknya.

“Papa bertahan ya, anak-anak masih perlu papa untuk masa depan mereka,” misalnya dibisikkan kata-kata penghibur itu. “Umi sembuh ya, anak-anak menanti tangan lembut umi,” kata anak-anak dalam untaian doa di samping ibunya yang tengah sakit tak sadarkan diri.

Ya, suara-suara penyemangat, kunjungan penuh kehangatan, cerita-cerita yang menghibur, dan pastinya doa ikhlas yang disampaikan di dekat pasien. Sungguh sangat menghiburnya.

Tokoh dan orang terpandang sekalipun, jika tanpa orang yang menjenguknya, apalah derita di hatinya. Apalah pula dosa kita, padahal dahulu semasa jayanya pasien, kita pernah merasakan pemberiannya, materinya, jasanya.

Ya, pasien berhak mendapat kunjungan dari saudara-saudaranya. Sementara bagi yang lain, mengunjunginya merupakan kewajiban.

Hebatnya lagi, orang beriman yang sakit, baginya adalah penggugur dosa-dosanya, pengangkat derajat kemuliaannya. Maka, justru kita yang sehatlah yang perlu doanya. Karena, dia sudah berkurang banyak dosadosanya, sementara kita masih bertambah-tambah dosanya.

sumber: republika.co.id[:en]

By: Ali Farkhani Tsani

The truth is, sick people do not need good food or drinks, nor fancy clothes. What he hopes is the spirit to be healthy. That there are still people who expect it, that there are still true friends who yearn for him to return to being cheerful as before.

In fact, the sick does not want any imported fruits, nor various toys. What he needs is the prayer so that he can recover and move as before.

There are still many people who need it. There are still many of his best friends who crave him to be active again, to be able to move and do the good things he used to do for many people.

During sickness, many people feel the bitterness. In pain there are still many relatives who feel sadness, that is the greatness in visiting our sick brothers, even the Messenger of Allah SAW described it with, “If someone visits his Muslim brother who is sick, it is as if he is walking while picking the fruits of heaven so he sits When he was seated, he handed down his rahmah profusely.

If he visited in the morning, seventy thousand angels prayed for the person who visited to get rahmah until the evening arrives. If he visited in the evening, seventy thousand angels pray for him to be given rahmah until morning arrives.” (HR at-Tirmidhi, Ibn Majah and Ahmad).

Then, when there is someone who is sick, unconscious, or comatose, then the recesses of his deepest level of consciousness would actually be heard and record the sounds that visit him.

“Father please hold on, our children still need a father for their future,” for example whispered words of that comforter. “Mother please get better, the children are waiting for your gentle hands,” said the children in a string of prayers beside their sick mother who was unconscious.

Yes, voices of encouragement, warm visits, entertaining stories, and certainly sincere prayer delivered near the patient are all heard. Truly, very comforting.

Yes, the patient is entitled to a visit from his brothers and sisters. While for others, visiting him is an obligation.

Amazingly, a believer who is sick, for him is as if burying his sins, and lifting the degree of his glory. So, it is we who are healthy who need prayers. Because, the sick has reduced a lot of sins, while we are still increasing ours.

Source: republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia