KUAT, KAYA, DAN MULIA (PART 3)

Pada pembahasan yang lalu saya mengupas tentang ”Kaya”, yang jika dikaitkan dengan salah satu sifat Allah, adalah Al Ghany artinya Maha Kaya. Kali ini saya akan mencoba mendeskripsikan salah satu sifat pemuda “ideal” lainnya yakni mulia. Secara fitrah, setiap manusia pasti mendambakan kehidupan mulia. Bagi setiap Muslim, setiap harinya mereka selalu berdoa kepada Allah Swt agar diberikan kehidupan mulia di dunia, dan begitu pula di akhirat, Robbana atina fi dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah. Hanya saja perlu diperjelas, kehidupan seperti apa yang dianggap mulia dalam pandangan syariat Islam.
 Al Karim adalah salah satu sifat Allah yang artinya Maha Mulia. Maha Kaya dan Maha Mulia merupakan dua sifat Allah Swt yang tercantum dalam Al Quran secara beriringan, diantaranya dalam surat An Naml ayat 40 yang  berbunyi, “..maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Kaya, Maha Mulia”.

Coba renungkan apa makna dan kaitannya antara kaya dan mulia dimana Allah Swt mencantumkan dua nama-Nya tersebut secara beriringan bahkan dalam satu ayat. Secara kasat mata kita akan sangat mudah menerka artinya yaitu bahwa kaya adalah sumber mulia. Orang yang memiliki kekayaan secara materi biasanya menjadi pihak yang dihormati dan dimuliakan, dan sebaliknya orang miskin harta seolah-olah tidak mulia dan tidak berhak mendapat kemuliaan. Kalau begitu apa yang dimaksud dengan mulia?

Rasulullah Saw yang mulia membimbing kita dalam memaknai esensi mulia. Beliau menjelaskan bahwa mulia  tidak ditentukan oleh fisik materi bahkan warna dan keturunanya, tapi ditentukan dengan taqwanya kepada Allah Swt. Sebagaimana Firman Allah, “Wahai manusia sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang  laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami  jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha melihat” QS Al Hujuraat ayat 13.

Sebagaimana Rasullullah Saw juga menjelaskan dalam sabdanya, “..barangsipa yang ingin menjadi orang yang paling mulia maka hendaklah ia bertqwa kepada Allah”

Taqwa mengandung makna sungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah serta takut dan khawatir akan sanksi dan adzab-Nya. Sehingga orang yang termasuk dalam kategori taqwa selalu berusaha untuk menjauhi dan meninggalkan larangan-Nya. Ketaqwaan yang berbuah amal dan kenyataan bukan sekedar keyakinan dan angan-angan.
Adapun doa Rasullullah Saw untuk menggapai ketaqwaan,

”Ya Allah anugerahkan kepada jiwa kami ketaqwaan serta sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engakaulah pembimbing dan pelindungnya”

Syaidinna Usman bin Affan menjabarkan 5 tanda orang bertaqwa :
1.    Tidak suka bergaul kecuali bergaul dengan orang-orang yang sholeh/sholehah, yang menjaga lisannya.
2.    Jika mendapat musibah duniawi, ia menganggapnya sebagai ujian dari Allah SWT.
3.    Jika mendapat musibah dalam urusan agama ia akan sangat menyesalinya.
4.    Tidak suka memenuhi perutnya dengan makanan haram dan tidak sampai kenyang.
5.    Apabila memandang orang lain, orang itu lebih sholeh dari dirinya. Tapi bila memandang diri sendiri, dirinya adalah orang yang penuh dosa.

Tags :
Konfirmasi Donasi