MERANGKAI PROSES

Oleh Ahmad Mutasim
Rumah Zakat-Cilegon

 

Kita sering mendengar ungkapan, “Yang penting proses, bukan hasil”. Ya, ungkapan tersebut memang wajar, karena memang tidak akan ada hasil tanpa proses yang berjalan untuk mencapainya. Tapi seringkali kita tidak benar-benar meresapi ungkapan tersebut dan tidak menyadari pentingnya sebuah proses. Kita pasti sudah mengenal Imam Bukhari. Ya, ulama yang kitab karyanya diakui oleh umat Islam sebagai kitab rujukan utama setelah Al-Qur’an Al-Karim. Al-Jami’ Ash-Shahih Al-Musnad yang lebih kita kenal dengan Shahih Bukhari. Ulama yang kapasitas keilmuannya dalam ilmu Jarh wa Ta’dil serta ‘Ilal Al-Hadits tak ada yang menyamainya.

 

Sadarilah, Imam Bukhari yang kita kenal sekarang adalah sebuah hasil. Dan tentu jika kita bicara hasil, ada sebuah proses yang perlu dijalani untuk mencapai hasil tersebut. Begitulah yang dijalani oleh Imam kita yang satu ini. Beliau tak serta merta bisa menghafal ratusan ribu hadits Rasulullah Saw. Beliau tak begitu saja mampu menghasilkan puluhan karya brilian yang sebagiannya sampai kepada kita. Sebelum Imam Bukhari, telah lahir juga seorang ulama luar biasa, penulis masterpiece Al-Umm dan Ar-Risalah, peletak dasar-dasar ilmu Ushul Fiqih, pendiri mazhab yang paling banyak diikuti sampai sekarang, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. beliau pun bergelar Nashir As-Sunnah wa Al-Hadits. Apakah guru dari Imam Ahmad bin Hanbal ini secara otomatis bisa memberikan fatwa di Masjidil Haram pada usia belasan tahun? Apakah murid Imam Malik bin Anas tersebut bisa melakukan puluhan istinbath hukum ketika menerima satu hadits tanpa sebuah proses panjang kehidupan sebelumnya? Jawabannya tentu tidak.

 

Kita tentu juga telah mengenal nama-nama seperti Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar-Rasyid, Jalaluddin As-Suyuthi, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, Muhammad Al-Fatih, Jamaluddin Al-Afghani, Hasan Al-Banna dan Taqiyuddin An-Nabhani. Nama-nama besar dengan segudang prestasi. Mereka yang kita kenal sekarang adalah mereka yang telah menjadi sebuah hasil. Pertanyaan bagi kita, apakah mereka bisa mencapai prestasi tinggi tersebut tanpa bersusah payah menjalani sebuah proses? Mari kita belajar dari kehidupan orang-orang besar tersebut. Imam Bukhari sebelum dikenal sebagai seorang muhaddits terbesar, telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengumpulkan hadits shahih dari Rasulullah Saw. Beliau bersusah payah mengumpulkan hadits dari masyayikh di berbagai negeri Islam, kemudian menghafal, meneliti dan mentakhrijnya. Imam Syafi’i mendedikasikan dirinya untuk menuntut ilmu sehingga beliau menjadi orang yang paling faqih di masanya.

 

Beliau mendedikasikan dirinya untuk menuntut ilmu di tengah keterbatasannya. Beliau juga hidup berpindah-pindah dari satu negeri Islam ke negeri Islam yang lain untuk menggali ilmu dari para pemiliknya. Seperti itu juga yang dilakukan oleh nama-nama besar yang lain. Mereka tak akan sukses dan menjadi besar melampaui zaman tanpa adanya upaya keras dan bersusah payah untuk mencapai tujuan mereka. Kita perlu sadar bahwa kehidupan dunia ini bukan untuk orang yang senang berleha-leha kemudian memimpikan diri menjadi besar. Kehidupan dunia ini bukan untuk orang yang duduk santai sambil melamun kemudian berangan-angan mencapai kesuksesan. Kehidupan dunia ini bukan untuk mereka, kehidupan dunia ini adalah untuk kita. Untuk orang-orang yang berani meniti langkah demi langkah, menjalani sebuah proses dalam menggapai apa yang kita cita-citakan.

 

Ya, hasil bukanlah untuk kita sekarang. Hasil bagi seorang muslim adalah di akhirat nanti, ketika kita dihadapkan pada taman-taman kemilau yang sungai-sungai indah mengalir di dalamnya. Hasil adalah juga untuk orang-orang setelah kita, orang-orang yang akan menikmati karya kita dan meresapi jalan kehidupan kita. Tugas kita sekarang adalah merangkai proses.

Tags :
Konfirmasi Donasi