Ada nikmat yang sangat besar tapi sangat jarang disyukuri karena kehadirannya terlalu familiar. Udara bersih adalah salah satunya karena selama ini hadir begitu saja setiap kali menarik napas tanpa pernah diminta dan tanpa pernah dibayar.
Tapi saat karhutla melanda dan asap tebal menyelimuti langit, barulah nikmat itu terasa nyata. Baru saat susah didapat, barulah disadari betapa besar nilainya sebuah tarikan napas yang segar dan bersih.
Nah, Rumah Zakat akan membahas mengapa udara bersih adalah nikmat yang sering dilupakan, bagaimana Islam memandangnya, dan bagaimana cara bersyukur yang lebih dari sekadar ucapan.
Mengapa Udara Bersih Baru Terasa Nikmatnya Saat Hilang?
Ada pola yang sangat manusiawi di balik fenomena ini dan memahaminya adalah langkah pertama untuk berubah menjadi pribadi yang lebih bersyukur.
Jadi, manusia cenderung menganggap biasa hal-hal yang selalu hadir tanpa henti dalam hidupnya. Udara, kesehatan, keamanan, semuanya baru terasa nilainya saat terancam hilang atau benar-benar hilang dari kehidupan.
Ini bukan kelemahan yang unik dari satu orang tapi merupakan pola umum yang bahkan Allah sendiri singgung dalam Al-Qur’an. Dan itulah mengapa perintah bersyukur disebutkan berulang kali karena Allah tahu betapa mudahnya manusia lupa.
Baca Juga: Sedih Lihat Berita Karhutla Dari Jauh? Ini Aksi Nyata Dari Ponselmu Untuk Membantu
Udara Bersih dalam Pandangan Islam
Islam memandang udara bersih bukan sebagai sesuatu yang kebetulan ada tapi sebagai nikmat yang disengaja Allah ciptakan untuk kehidupan manusia.
Nikmat yang Disebut Allah tapi Sering Terlewat
Allah SWT berfirman dengan sangat jelas tentang udara sebagai bagian dari nikmat-Nya:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air dari langit, lalu Dia mengeluarkan dengan air itu berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian.” (QS. Ibrahim: 32)
Seluruh sistem alam termasuk udara yang bisa dihirup adalah bagian dari satu paket nikmat yang Allah tundukkan untuk manusia. Tidak ada satu pun dari semuanya yang hadir secara kebetulan.
Udara Bersih adalah Nikmat yang akan Ditanyakan
Rasulullah SAW bersabda tentang dua nikmat yang paling banyak dilalaikan:
“Dua nikmat yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan manusia yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Udara bersih adalah fondasi dari kesehatan itu sendiri. Ketika udara tercemar asap karhutla dan ribuan orang mengalami ISPA dalam hitungan minggu, barulah terasa betapa besar kontribusi udara bersih terhadap kesehatan yang selama ini dinikmati tanpa disadari.
Baca Juga: Infak Bencana Nasional, Bantu Saudara yang Sedang Kesulitan
Cara Islam Mengajarkan Syukur atas Nikmat Udara Bersih
Syukur atas nikmat udara bersih bukan hanya tentang mengucap alhamdulillah tapi ada dimensi yang jauh lebih luas dan lebih nyata dari itu.
Allah berfirman tentang syukur yang sesungguhnya:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Berikut wujud syukur atas nikmat udara bersih yang bisa langsung dilakukan:
- Jaga lingkungan sekitar dari pembakaran dan tindakan yang mencemari udara karena menjaga nikmat adalah bagian dari bersyukur atasnya.
- Dukung upaya pelestarian hutan yang menjadi penjaga kualitas udara karena ini adalah bentuk syukur yang berdampak nyata dan jangka panjang.”
- Bantu mereka yang sedang kehilangan nikmat udara bersih akibat bencana karhutla karena syukur yang paling bermakna adalah yang diwujudkan dalam kebaikan untuk orang lain.
- Perbanyak zikir pagi dan petang sebagai pengakuan bahwa setiap tarikan napas adalah karunia yang bukan milik sendiri tapi titipan dari Allah.
Kesimpulan
Jadi, udara bersih adalah nikmat yang nilainya baru benar-benar terasa saat asap karhutla menutup langit dan ribuan orang mulai batuk, sesak, dan antre di puskesmas. Itulah tanda bahwa syukur selama ini belum sepenuhnya hadir untuk nikmat yang paling mendasar ini.
Syukur yang sesungguhnya tidak berhenti di ucapan tapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Salurkan donasi untuk saudara-saudara yang hari ini sedang kehilangan nikmat udara bersih akibat karhutla melalui Rumah Zakat karena membantu mereka adalah salah satu cara terbaik mensyukuri udara segar yang masih bisa dihirup hari ini.

