SENYUM BANGSA YANG BERGEGAS!

Oleh : Muhammad Trieha
Marketing and Program Development Group Head Rumah Zakat

Setiap kita mungkin sepakat bahwa senyum adalah aksesoris paling indah pada sebuah wajah. Jikalah wajah tersebut terlapisi kosmetik dan perhiasan anggap saja itu “baking powder” yang membantu membuat senyum tersebut lebih terkembang, seperti adonan kue. Walaupun penting juga mengingat pesan ibu saya tentang baking powder ini ; gunakanlah seperlunya!

Dalam sebuah obrolan kecil malam-malam dengan seorang tukang bakso di depan rumah, saya menangkap ada ajaran bijak dari mulut dan semoga hatinya, bahwa semburat ceria dan bahagia bergandengan dengan pandangan hidup seseorang tentang dunia. Dalam perjalanan mengejar dan menikmati takdir tersebut sifat sabar harus jadi panglimanya. Maka jadilah ia sebagaimana yang saya lihat malam itu, ringan, easy going, dalam balut senyuman, walaupun saya tahu dia tidak sedang cukup uang saat itu.

Saat bakso dalam mangkuk sudah saya letakkan, mas bakso ini melanjutkan cerita bagaimana sering teman-temannya sesama pedagang bakso (terutama yang muda-muda) sering malu kalau masuk pangkalan saat pulang dengan isi bakso berikut amunisi pendukung mulai mie, kecambah dan sejenisnya yang masih banyak. Mereka sering menyembunyikan sisa jualannya di bagian atas etalasenya (aduh apa namanya itu kotak kaca),  jadi kalau disapa, “Laris mas?” minimal mereka bisa melemparkan senyum manisnya sambil mengangguk tanda iya.

Jadi, siapapun kita pada dasarnya suka melihat orang tersenyum, tak perlu tahu sedang pada kondisi apa di baliknya. Tak perlu auditor untuk menakar apakah senyum itu tulus atau pura-pura, atau memasang tampang menyelidik seakan kita serba tahu mana senyum asli dan mana yang buaya (kasihan sekali makhluk satu ini, selalu dilibatkan dalam panggung per-palsu-an, padahal sepatu makin asli buayanya makin mahal harganya). 

Dalam ruang pergaulan ini sepertinya positif thinking perlu lebih didahulukan.

Senyum Rasulullah
Tulisan ini selain mengajak kita untuk semakin membiasakan tersenyum juga menawarkan ide bagaimana pesona senyum tersebut dapat berelasi dengan senyuman Rasulullah Muhammad SAW. Bagaimana bisa? Dalam beberapa kesempatan, guru saya ust Abu Syauqi pendiri Rumah Zakat menuturkan bagaimana obsesi beliau jika nanti di Padang Makhsyar saat manusia dibangkitkan dan dihamparkan, Rasulullah SAW mencari-cari Abu Syauqi. “Mana Abu, dimana Abu?” Kemudian kedua orang ini berjumpa, berpelukan erat dan Nabi Muhammad SAW menatap bangga, “Terima kasih Abu, aku bersaksi engkau adalah pengikutku yang setia menjaga umat dan ajaranku”. Rasulullah SAW pun tersenyum, bahagia. Kita tidak tahu apakah kejadian itu akan benar adanya, kita doakan saja. Tapi minimal saya kepengen juga memiliki obsesi yang sama. Pertanyaannya, apa hubungannya kita mengajak tersenyum dengan senyuman Rasulullah?

Hubungan keduanya nampak pada realitas hari ini dimana umat Islam makin banyak tercerabut dari akar ajaran Nabinya. Di sisi lain para pengikutnya yang setia harus berjibaku dalam penderitaan melawan penjajahan yang berkepanjangan. Kepingan masalah lainnya juga terserak begitu banyak menyusun sebuah kolase gambar murung yang mungkin membuat Rasulullah menangis.

Ide dari gerakan ini sederhana, bagaimana mengajak orang bisa semakin ringan dan banyak tersenyum. Untuk sebuah sungging senyum yang langgeng tentu tak sekedar bagaimana menyuruh, “Ayo senyum! Senyumnya mana huoooii!” tapi dengan meringankan hambatan mengapa senyum itu sulit bermekaran. Mungkin karena beratnya menghadapi kondisi keuangan, yang kemudian menyeret fragmen baru bernama sulit mengenyam pendidikan, sulit hidup sehat, terjerat lintah darat, keluarga broken home dan koneksi masalah lainnya sebagaimana istilah yang pernah terkenal waktu lalu, IPOLEKSOSBUDHANKAM. Intinya serba kompleks.

Maka bukankah sebuah usaha yang mulia untuk membuat Rasulullah SAW tersenyum baik saat ini maupun kelak nanti di akhirat? Yang bangga melihat kita bersama bergegas saling meringankan beban saudara kita atau secara umum dalam lingkar kemanusiaan.  Kebergegasan inilah sebagai pembuktian kita menjawab amanat beliau saat hendak menghadap sang Khalik, “Ummatii..ummati..ummatii!” Dan kita yakin, masih begitu banyak potensi yang bisa dimaksimalkan.

Rumah Zakat
Mengusung gerakan Merangkai Senyum Indonesia, gagasan tersebut dibumikan. Rumah Zakat melihat ini upaya bersama untuk menghalau mendung yang ada pada saudara kita sebangsa sehingga tak mampu tersenyum leluasa. Tapi jangan dikira yang bisa tersenyum hanya mereka yang berpunya, sebagaimana jangan dikira bahwa mereka yang kurang berpunya lebih rendah kadar bahagianya. Ketidakjelasan inilah justru yang mendorong kita baik sebagai pribadi, keluarga, organisasi untuk menyempurnakan diri dan saling menasehati.  Dalam konteks aksi, Merangkai Senyum Indonesia adalah aksi untuk maju memperbaiki kondisi pendidikan, kesehatan dan kemandirian bangsa.

Sebagai bahan bakar langkah ini sepertinya spirit kesabaran dari si mas bakso tadi perlu dilengkapi, saya ingin menambahkan satu lagi : daya juang!

Semoga Indonesia bangkit berjaya, tampil tersenyum dan memukau di kancah dunia. Semoga Rasulullah SAW tersenyum bangga, satu bangsa yang bergegas itu bernama Indonesia.

 

Tags :
Konfirmasi Donasi