Silent treatment saat pasangan marah sering dipilih sebagai cara untuk menghindari pertengkaran. Sebagian orang memilih diam agar emosi mereda, sementara yang lain justru menggunakan sikap diam untuk menghukum, mengabaikan, atau membuat pasangan merasa bersalah.
Lantas, bagaimana pandangan Islam? Apakah silent treatment dibolehkan?
Jawabannya bergantung pada tujuan dan cara melakukannya. Islam membolehkan memberi jeda komunikasi untuk menenangkan emosi, tetapi tidak membenarkan mendiamkan pasangan dengan tujuan menyakiti, menghukum, atau menelantarkan hak-haknya.
Baca juga : Sebelum Menikah, Kenali 7 Hal Ini Tentang Calon Pasanganmu!
Apa Itu Silent Treatment?
Silent treatment adalah sikap sengaja menghentikan komunikasi atau mengabaikan seseorang dalam suatu hubungan. Dalam rumah tangga, bentuknya bisa berupa:
- Tidak mau berbicara dengan pasangan.
- Mengabaikan pesan atau telepon tanpa alasan yang jelas.
- Menolak berdialog meskipun masalah perlu diselesaikan.
- Bersikap dingin untuk membuat pasangan merasa bersalah.
Namun, perlu dibedakan antara diam untuk menenangkan diri dan diam sebagai bentuk hukuman emosional. Keduanya memiliki tujuan dan dampak yang berbeda.
Islam Mengajarkan Menyelesaikan Konflik dengan Baik
Allah SWT berfirman:
“…Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut…” QS. An-Nisa’: 19
Ayat ini mengajarkan agar suami dan istri saling memperlakukan pasangan dengan cara yang baik (mu’asyarah bil ma’ruf), termasuk ketika menghadapi perbedaan pendapat atau konflik.
Selain itu, Allah SWT juga berfirman:
“Dan jika ada perselisihan antara keduanya, maka utuslah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan…” QS. An-Nisa’: 35
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam mendorong penyelesaian masalah melalui komunikasi dan perdamaian, bukan dengan membiarkan konflik berlarut-larut.
Kapan Silent Treatment Diperbolehkan?
Silent treatment saat pasangan marah dapat menjadi pilihan yang bijak apabila tujuannya adalah:
- Memberikan waktu agar emosi sama-sama mereda.
- Menghindari ucapan yang menyakitkan saat sedang marah.
- Mempersiapkan diri untuk berdiskusi dengan kepala dingin.
Namun, jeda tersebut sebaiknya disertai penjelasan yang baik, misalnya, “Aku ingin menenangkan diri dulu. Setelah lebih tenang, kita lanjutkan pembicaraan.”
Dengan cara ini, pasangan tidak merasa diabaikan atau ditolak.
Kapan Silent Treatment Tidak Dibenarkan?
Sikap diam menjadi tidak baik apabila digunakan untuk:
- Menghukum pasangan secara emosional.
- Memanipulasi agar pasangan selalu mengalah.
- Mengabaikan hak-hak pasangan dalam waktu yang lama.
- Menghindari penyelesaian masalah tanpa alasan yang jelas.
Perilaku seperti ini dapat merusak kepercayaan, memperbesar konflik, dan mengganggu keharmonisan rumah tangga.
Rasulullah SAW Melarang Memutus Hubungan Terlalu Lama
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari…” HR. Bukhari dan Muslim
Hadis ini berbicara tentang hubungan antarsesama Muslim secara umum. Dalam hubungan suami istri, para ulama menjelaskan bahwa menjaga komunikasi dan menyelesaikan perselisihan dengan cara yang baik lebih utama agar tidak menimbulkan mudarat yang lebih besar.
Baca juga : Rahasia Rumah Tangga Harmonis, Amalan Agar Pasangan Selalu Setia
Penutup
Silent treatment saat pasangan marah tidak selalu dilarang dalam Islam. Jika dilakukan sebagai jeda sementara untuk mengendalikan emosi dan mencegah pertengkaran yang lebih besar, hal tersebut dapat menjadi langkah yang bijaksana. Namun, apabila sikap diam digunakan untuk menghukum, menyakiti, atau memanipulasi pasangan, maka perilaku tersebut bertentangan dengan nilai kasih sayang dan akhlak yang diajarkan Islam.
Rumah tangga yang harmonis dibangun melalui komunikasi yang baik, saling menghormati, serta kesediaan untuk menyelesaikan setiap masalah dengan cara yang diridhai Allah SWT.


