Ada perasaan tidak mengenakkan saat melihat berita karhutla dari jauh. Tidak bisa ikut memadamkan api, tidak bisa langsung ke lokasi, dan rasanya hanya bisa scroll berita sambil menghela napas panjang.
Tapi ada satu hal yang hampir semua orang punya akses ke sana yaitu media sosial. Dan ternyata, menggunakannya dengan cara yang tepat untuk menyuarakan isu karhutla bukan hal yang kecil tapi bisa jadi bentuk kepedulian yang sangat nyata dampaknya.
Nah, RUmah Zakat akan membahas bagaimana Islam memandang menyuarakan kebenaran dan kepedulian, cara yang efektif untuk menyuarakan karhutla di medsos, dan batas yang perlu dijaga agar tidak jatuh ke riya.
Apakah Menyuarakan di Medsos Termasuk Bentuk Kepedulian yang Bermakna?
Sebelum membahas caranya, penting untuk menjawab dulu pertanyaan yang mungkin ada di kepala yaitu apakah ini benar-benar berarti atau hanya sekadar ikut-ikutan tren?
Islam memandang lisan dan tulisan sebagai amal yang dicatata, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya.” (HR. Muslim)
Karhutla adalah kemungkaran berupa kerusakan lingkungan yang nyata. Menyuarakannya melalui tulisan di medsos masuk dalam kategori mengubah dengan lisan yang di era digital setara dengan tulisan dan konten yang disebarluaskan.
Baca Juga: Sebelum ke Rumah Sakit, Ini Pertolongan Pertama Saat Sesak Akibat Asap Karhutla
Cara Menyuarakan Karhutla di Medsos yang Berdampak Nyata
Bukan semua postingan tentang karhutla punya dampak yang sama, ada cara yang jauh lebih efektif untuk benar-benar menggerakkan orang lain.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Posting
Sebelum membuat konten tentang karhutla, ada beberapa hal yang perlu dipastikan terlebih dahulu agar postingan tersebut benar-benar berdampak dan tidak malah menyebarkan informasi yang salah.
Berikut yang perlu dilakukan sebelum posting:
- Verifikasi sumber berita dari media terpercaya atau data resmi seperti BNPB, BMKG, atau Kemenkes sebelum membagikan informasi apapun tentang karhutla.
- Cek tanggal berita karena foto dan data karhutla dari tahun lalu sering beredar kembali dan bisa menyesatkan audiensnya.
- Pahami konteks data yang akan dibagikan karena angka yang diambil sepotong tanpa konteks bisa menimbulkan kepanikan yang tidak produktif.
- Siapkan tautan donasi yang valid agar audiens yang tergerak bisa langsung mengambil tindakan nyata setelah membaca konten tersebut.
Konten yang Paling Efektif untuk Menggerakkan Orang Lain
Tidak semua jenis konten punya efek yang sama dalam menggerakkan orang untuk peduli dan bertindak. Ada formula yang jarang disadari tapi sangat terbukti efektif.
Berikut jenis konten karhutla yang paling menggerakkan audiens:
- Foto atau video nyata dari lapangan dengan caption yang menjelaskan kondisi terkini karena visual adalah pemicu empati yang paling kuat.
- Data yang dikemas dengan narasi personal misalnya berapa balita yang terdampak ISPA bukan sekadar angka statistik yang kering.
- Cerita satu orang terdampak yang divisualkan dengan baik jauh lebih efektif dari ribuan data karena manusia secara natural lebih berempati pada individu dari pada statistik.
- CTA atau call to action yang jelas di akhir postingan seperti tautan donasi, nomor layanan relawan, atau ajakan berbagi konten kepada orang lain.
- Infografis yang mudah dibagikan karena konten visual yang ringkas dan jelas jauh lebih banyak di-share dibanding artikel atau caption panjang.
Baca Juga: Karhutla Belum Selesai! Yuk, Salurkan Donasi Bersama Rumah Zakat
Batas yang Perlu Dijaga agar Tidak Jatuh ke Riya
Menyuarakan kepedulian di medsos menyimpan satu risiko yang perlu dijaga dengan jujur yaitu potensi riya atau berbuat baik agar terlihat baik di depan orang lain.
Riya adalah penyakit hati yang sangat halus dan bisa masuk ke dalam tindakan yang terlihat mulia dari luar. Yang membedakan kepedulian yang tulus dan riya bukan pada tindakannya tapi pada motivasi yang mendorongnya.
Berikut cara menjaga niat tetap lurus saat menyuarakan isu karhutla di medsos:
- Tanya diri sendiri sebelum posting : apakah tetap akan memposting ini jika tidak ada yang melihat atau memberikan respons?.
- Posting untuk menggerakkan, bukan untuk pujian karena konten yang fokus pada aksi audiens jauh lebih berdampak dari konten yang menonjolkan kepedulian diri sendiri.
- Imbangi dengan tindakan nyata karena menyuarakan di medsos tanpa ada aksi nyata di belakangnya adalah kepedulian yang tidak lengkap.
- Kurangi pengecekan likes dan komentar setelah posting karena kegelisahan terhadap respons adalah sinyal bahwa motivasinya mulai bergeser.
Kesimpulan
Jadi, menyuarakan karhutla di medsos bukan tindakan yang sia-sia atau sekadar ikut-ikutan tapi bisa menjadi bentuk amar ma’ruf yang nyata jika dilakukan dengan cara yang tepat, informasi yang valid, dan niat yang terjaga.
Satu postingan yang menggerakkan satu orang untuk berdonasi sudah cukup untuk menjadi amal yang dicatat di sisi Allah.
Tapi menyuarakan kepedulian akan jauh lebih bermakna jika diikuti dengan aksi nyata yang bisa dimulai hari ini.
Salurkan donasi untuk korban karhutla melalui Rumah Zakat karena kepedulian yang paling lengkap adalah yang tidak berhenti di kata-kata tapi bergerak menjadi bantuan yang langsung dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan.

