NGIDAM, MITOS ATAU FAKTA?

Oleh: dr. Hilmi S.Rathomi, MKM

Kehamilan merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi seorang wanita. Selama proses kehamilan hingga terjadinya persalinan, terjadi perubahan-perubahan pada tubuh seorang calon ibu, yang sebagian besar merupakan upaya adaptasi tubuh untuk menunjang perkembangan calon bayi. Perubahan hormonal, volume darah, dan komposisi tubuh dari ibu hamil ini berdampak pada apa yang dirasakan oleh ibu tersebut.

Salah satu kejadian menarik dari proses kehamilan adalah adanya ngidam yang dialami oleh hampir semua ibu hamil. Ngidam merupakan suatu keinginan yang amat kuat dari ibu untuk mengkonsumsi jenis makanan tertentu selama masa kehamilannya, baik pada saaat trimester pertama, kedua, maupun ketiga. Kondisi ngidam ini amat berkesan karena bukan hanya berdampak pada sang ibu yang sedang hamil, tetapi juga keluarga di sekitarnya, terutama suami, yang kerap kali ikut repot berusaha menyediakan makanan atau minuman yang diidamkan oleh si ibu hamil.

Berbagai studi yang dilakukan oleh para ahli kedokteran dan kandungan hingga saat ini masih belum mampu menjelaskan dengan pasti mengapa terjadi ngidam pada ibu hamil serta bagaimana mekanismenya. Namun, teori yang paling diyakini saat ini adalah ngidam yang dirasakan ibu hamil muncul diakibatkan adanya kekurangan zat gizi tertentu yang sedang dialami tubuh ibu tersebut.

Dalam proses adaptasi yang terjadi selama kehamilan, tubuh membutuhkan nutrisi tertentu dalam jumlah lebih dari biasanya. Kebutuhan nutrisi inilah yang oleh tubuh diekspresikan dalam bentuk ngidam, sebagai upaya tubuh “meminta” apa yang dibutuhkannya. Pada sebagian besar wanita, ngidam biasanya terjadi pada makanan yang terasa manis, pedas, asin, atau asam. Hal ini dikarenakan makanan yang memiliki rasa tersebut biasanya cenderung mengandung zat gizi spesifik dalam jumlah yang cukup banyak. Sebagai contoh, pada ibu hamil yang ngidam makanan yang cenderung asin, hal tersebut diduga merupakan tanda dari tubuh si ibu membutuhkan lebih banyak natrium/garam. Keinginan makan gorengan atau makanan cepat saji, menandakan tubuh butuh ibu hamil sedang memerlukan lebih banyak protein, lemak, garam, dan kalium. Ibu hamil yang ngidam makanan manis seperti coklat atau es krim merupakan sinyal dari tubuh yang membutuhkan lebih banyak kalsium dan lemak, yang memang terdapat dalam jumlah cukup banyak pada coklat atau es krim.

Variasi menu ngidam yang berbeda-beda pada tiap ibu, terutama pada budaya dan negara yang berbeda, diakibatkan oleh pengalaman tubuh ibu yang juga berbeda pada saat mengkonsumsi tiap jenis makanan. Meskipun teori di atas diyakini oleh banyak kalangan, ngidam pada sebagian besar jenis makanan diketahui tidak mencerminkan adanya ancaman kekurangan nutrisi secara serius baik pada ibu maupun bayi.

Namun, pada ibu hamil yang mengalami ngidam terhadap benda tertentu yang cenderung tidak memiliki kandungan gizi, bahkan bukan tergolong makanan, merupakan tanda dari adanya kekurangan zat gizi esensial terutama zat besi yang amat penting selama proses kehamilan. Ibu hamil yang ngidam memakan benda aneh seperti tanah, kyaron, dan semacamnya, dikenal dengan istilah pica, yang merupakan gejala kekurangan zat besi. Pada kondisi ini, tentu ngidam merupakan suatu tanda bahaya yang harus diwaspadai dan dikonsultasikan ke dokter. Peristiwa ngidam yang dialami oleh ibu hamil, mayoritasnya tidak perlu dikhawatirkan. Ibu bisa saja menuruti keinginan tersebut, dan bisa juga mengabaikannya. Keyakinan bahwa anak yang dilahirkan akan ngiler atau banyak mengeluarkan air liur pada saat lahir akibat ngidam yang tidak terpenuhi merupakan mitos yang tidak jelas asal usulnya, dan terbukti tidak benar.

Selain kondisi pica yang sudah dijelaskan di atas, hanya ada dua situasi yang perlu menjadi perhatian pada saat ngidam. Pertama, jika ngidam yang dimiliki mengakibatkan perubahan pola makan ibu tersebut dan menjadikan ibu tidak mengkonsumsi makanan yang bergizi. Kondisi ini tentu kurang baik, karena ibu hamil terancam kekurangan zat gizi yang sudah jelas dibutuhkan selama kehamilan, seperti serat, zat besi, dan vitamin/mineral lainnya. Kedua, ngidam patut menjadi perhatian jika terjadi pada makanan yang mengandung kalori yang tinggi seperti junk food, atau substansi berbahaya seperti alkohol.

Hal ini perlu diwaspadai, sebab ngidam terhadap makanan jenis ini dapat mengakibatkan kenaikan berat badan secara berlebihan pada ibu hamil. Situasi ini bisa berujung pada munculnya penyakit selama kehamilan seperti diabetes gestasional (diabetes pada kehamilan) ataupun pre eklamsia yang amat berbahaya bagi kesehatan kehamilan dan proses persalinan nantinya. Untuk menanggulangi hal tersebut, jika sudah terlihat tanda-tanda ibu hamil mengkonsumsi makanan tinggi kalori dalam jumlah yang berlebihan, keluarga harus memikirkan makanan pengganti yang lebih sehat namun tetap memenuhi keinginan ngidam si ibu. Beberapa makanan yang seringkali bisa menjadi makanan pengganti ngidam diantaranya adalah buahbuahan, yogurt, pisang, sereal, dan produk makanan sehat lain yang memiliki varian rasa yang diinginkan oleh ibu.

Tags :
Konfirmasi Donasi