Kenapa 10 Muharram Disebut Lebaran Anak Yatim? Ini Asal-Usulnya!

oleh | Jun 24, 2026 | Inspirasi

Setiap tanggal 10 Muharram tiba, istilah “Lebaran Anak Yatim” selalu ramai terdengar di berbagai daerah di Indonesia.

Banyak masjid, lembaga sosial, hingga keluarga yang menggelar acara khusus untuk menyantuni anak anak yatim pada hari tersebut.

Tapi dari mana sebenarnya istilah ini berasal? Apakah ada dalil khusus yang menyebutkan demikian, atau ini murni tradisi yang berkembang di tengah masyarakat?

Nah, pertanyaan ini penting dijawab agar pemahaman yang dimiliki tetap berada pada jalur yang benar.

Di artikel ini Rumah Zakat akan membahas asal usul sebutan lebaran anak yatim, kedudukan anak yatim dalam Islam, hingga bagaimana sebaiknya memaknai tradisi ini dengan tepat.

Asal Usul Sebutan Lebaran Anak Yatim

Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami dulu dari mana sebenarnya istilah ini muncul dan berkembang di tengah masyarakat.

Tradisi yang Berkembang di Masyarakat Indonesia

Istilah Lebaran Anak Yatim merupakan tradisi yang berkembang khususnya di Indonesia, bukan istilah yang berasal langsung dari Arab atau zaman Rasulullah SAW.

Penyebutan ini muncul karena masyarakat menganggap hari Asyura sebagai momen istimewa untuk berbagi kepada anak yatim, sehingga dianalogikan seperti perayaan tersendiri bagi mereka.

Tradisi ini umumnya diisi dengan kegiatan memberi santunan, mengadakan makan bersama, hingga membagikan pakaian baru kepada anak anak yatim, menyerupai semangat yang biasa dirasakan saat hari raya.

Apakah Ada Dalil Khususnya?

Tidak ada dalil shahih yang secara spesifik menyebut tanggal 10 Muharram sebagai lebaran anak yatim.

Penyebutan ini lebih tepat dipahami sebagai istilah budaya yang lahir dari semangat keagamaan masyarakat, bukan sebagai bagian dari syariat yang baku.

Meski demikian, hal ini tidak menjadi masalah selama esensinya tetap pada kebaikan menyantuni anak yatim, bukan menjadikan istilah tersebut sebagai ibadah yang diyakini memiliki kedudukan khusus secara syariat.

Baca Juga: Amalan di Bulan Muharram yang Sering Dianggap Sunnah Padahal Tidak Ada Dalilnya

Mengapa Hari Asyura Identik dengan Kepedulian terhadap Yatim?

Meski istilahnya berasal dari tradisi, ada alasan kuat mengapa kepedulian terhadap anak yatim sering dikaitkan dengan momen Asyura.

Kedudukan Anak Yatim dalam Islam

Anak yatim memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam. Allah SWT berfirman:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang wenang.” (QS. Ad-Dhuha: 9)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa anak yatim adalah amanah yang harus dijaga dan diperlakukan dengan baik oleh setiap Muslim, kapanpun waktunya, tidak terbatas hanya pada hari Asyura saja.

Keutamaan Menyantuni Yatim di Hari yang Mulia

Karena Asyura termasuk hari yang dimuliakan di bulan Muharram, banyak ulama menganjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan, termasuk menyantuni anak yatim, sebagai bentuk syukur atas keberkahan bulan tersebut.

Rasulullah SAW bersabda:

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini,” sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Bukhari)

Hadis ini menjadi salah satu alasan kuat mengapa menyantuni yatim, terutama di hari yang penuh keberkahan seperti Asyura, menjadi amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.

Baca Juga: Yuk Berbagi di Bulan Muharram Melalui Sedekah Yatim

Bagaimana Sebaiknya Memaknai Lebaran Anak Yatim?

Setelah memahami asal usul dan dalilnya, penting untuk menempatkan tradisi ini pada posisi yang tepat agar tidak keliru dalam memahaminya.

Jadi, lebaran anak yatim sebaiknya dipahami sebagai tradisi baik yang membantu mengingatkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap anak yatim, bukan sebagai ritual ibadah yang memiliki kedudukan khusus dalam syariat.

Yang lebih penting adalah substansi di baliknya, yaitu menyantuni dan memuliakan anak yatim, sebuah amalan yang nilainya sangat besar di sisi Allah, baik dilakukan di hari Asyura maupun di hari hari lainnya sepanjang tahun.

Kesimpulan

Jadi, sebutan lebaran anak yatim memang bukan istilah yang berasal dari dalil khusus, melainkan tradisi yang berkembang di masyarakat Indonesia sebagai bentuk semangat berbagi pada hari Asyura. Yang lebih utama adalah esensi kepedulian terhadap anak yatim itu sendiri, bukan sekadar penamaan tradisinya.

Jadikan momen ini sebagai pengingat untuk terus peduli kepada anak yatim, tidak hanya di tanggal 10 Muharram saja. Salurkan sedekah Yatim melalui Rumah Zakat dan jadilah bagian dari mereka yang dijanjikan kedekatan dengan Rasulullah SAW di surga karena memuliakan anak yatim.

Kalkulator Zakat

Hitung zakat Anda secara akurat dengan kalkulator zakat kami

Donatur Care

Silakan cek riwayat donasi Anda disini

Link Terkait